Selasa, 20 November 2012

Baby-led Weaning Part 8: Disuapin bila...

1) Little Big Rei sedang sakit. Kalau sedang terkena reaksi alergi seperti batuk dan pilek, Rei maunya lengket dalam dekapan dan pelukan. Maunya dipangku dan disuapin makan, tidak mau didudukkan di kursi makannya.

2) Sedang bepergian dan situasi tidak memungkinkan untuk anak makan sendiri. Contohnya ketika keluarga jalan-jalan ke kebon binatang Ragunan. Alamak, kotor sekali udara dan lingkungannya. Toilet jauh dan jorok. Karena merasa kurang higienis, meski bisa membersihkan tangan Rei pakai air mineral atau tissue basah, tetap saja saya kehilangan percaya diri untuk membiarkan Rei pegang makan sendiri. Jadi saya suapin deh. Meski begitu, beberapa kali Rei spontan mengambil anggur waktu kami lesehan.

3) Rei sedang aktif sekali bermain dan tidak mau didudukkan di kursi makan, padahal jadwal makan sudah terlambat. Biasanya saya menghampirinya di tempat bermain dan menyuapkan sedikit buah sebagai snack. Kalau hasrat makan (apetite) sudah muncul, lanjut makan berat di meja makan.

4) Rei menolak makanan baru atau makanan yang teksturnya terlalu lembek (note: saya pernah salah buat siomai). Rei tidak mau pegang makanannya. Saya akhirnya menyuapi makanan itu untuk memperkenalkan. Bila dia merasa cocok dengan makanan itu, biasanya dia akan berani mengambil dan melumatnya.

5) Minum kuah sayur atau sup ikan (dengan sendok). Dia juga bisa meminumnya lewat cangkir.

6) Sedang belajar menggunakan sendok. Tangan saya mengarahkan tangan Rei yang sedang pegang sendok, membantu menciduk makanan. Selanjutnya dia sudah bisa mengarahkan sendok ke dalam mulutnya.

7) Saya sedang sakit atau kelelahan, sehingga tidak mampu membersihkan kursi makan, ceceran makanan dan baju kotornya kalau dia makan sendiri.

Markisa, buah favorit Rei (14 bln). Kadang saya suapin biji markisa yang jatuh ke piringnya.
 
Pada akhirnya, metode baby-led weaning tetap fleksibel kok. Berdasarkan pengalaman saya, sesekali menyuapi bayi atau toddler yang sejak usia 6 bulan sudah full BLW seperti Little Big Rei, tidak akan mengurangi ketrampilannya makan sendiri atau menimbulkan  ketergantungan untuk disuapi. Oya, sambil  disuapi, anak BLW pasti 'gatel' mau tetap pegang-pegang makanan dan memasukkan ke mulut.

Jadi menyuapi tidak dilarang. Intinya, baca bayi kita dan baca situasi. As for dining, always keep baby and momma happy and connected :-)

Minggu, 14 Oktober 2012

Istri Penyokong Suami, Bukan Asisten!

Adem rasanya dan masih terngiang di hati ketika menikmati khotbah kebaktian di gereja minggu lalu. Bagaimana tidak? Ini kali pertama saya mendengar ada pendeta di depan mimbar, berbicara kepada jemaatnya tentang pentingnya kesetaraan dalam rumah tangga. Sungguh suatu yang langka. Saya yang kurang rajin ke gereja jadi bersemangat :D

Pendeta ini tidak melontarkan kata 'gender' atau 'kesetaraan gender' tetapi dia sebetulnya sedang berbicara tentang itu. Tidak penting apakah dia menyampaikan kata 'gender' atau tidak, yang penting isinya. Lagian toh banyak orang masih tidak paham konsepnya.

Adalah Pdt. Rumenta S Manurung yang berkhotbah di depan warga jemaat GKI Kranggan hari Minggu 07 Oktober 2012 dalam rangka merayakan bulan keluarga (Oktober). Tema bulan keluarga adalah Setia Bersaksi dan Melayani. Pendeta merelasikan tema dengan kesetaraan dan pembagian peran antara istri dan suami.

Suami istri dipasangkan oleh Tuhan untuk suatu tujuan, yaitu agar keduanya dapat saling bersaksi dan melayani, hingga pada akhirnya, semua yang mereka lakukan itu memuliakan Tuhan. Banyak pernikahan kenyataannya diwarnai kekecewaan karena sosok pasangan hidup yang dicitrakan tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. Salah satu kekecewaan disebabkan oleh ketidakseimbangan posisi dalam rumahtangga, di mana istri ditempatkan sebagai posisi yang subordinat.

Dalam Kejadian 2 : 18, Tuhan berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."  Demikianlah Tuhan menciptakan perempuan untuk mendampingi laki-laki. Banyak misinterpretasi tentang kata "penolong" ini, yaitu umumnya disalahartikan menjadi 'asisten' atau 'pembantu' atau orang yang posisinya subordinat, di bawah laki-laki. Istri dianggap sebagai asisten beres-beres atau bersih-bersih rumah. Padahal makna "penolong" di sini bermakna jauh lebih tinggi dari itu.

Pdt. Rumenta S Manurung menekankan jemaat untuk meng-underline-bold-perbesar font kata PENOLONG. Kata ini diterjemahkan dari kata Ezer (Hebrew), yang digunakan dalam relasi antara Allah dengan umatnya. Allah adalah PENOLONG umatnya, demikianlah juga perempuan penolong laki-laki.


Penjelasan pendeta soal kata 'Ezer' ini rasanya bagi saya masih kurang detil. Karenanya, sepulang dari gereja, saya search di google tentang penggunaan kata Ezer  di Alkitab. Kata Ezer berasal dari bahasa Hebrew - Ibrani modern, satu grup dengan kata Azar dan Ezra. Dalam bahasa Inggris sering diterjemahkan sebagai verb atau noun, yaitu "Help" atau "Support", dan dalam bahasa Indonesia: pertolongan atau penolong.

Ternyata memang betul. Banyak sekali pemakaian kata 'Ezer" dalam Alkitab yang menunjukkan relasi antara Allah dan umatnya, serta yang secara jelas menunjukkan bagaimana umat meminta pertolongan Allah. Sila mencek di Hebrew Word Study on Help.

Saya catat beberapa ayat di sini.

"... oleh Allah ayahmu yang akan menolong engkau, dan oleh Allah yang Mahakuasa yang akan memberkati engkau dengan berkat dari langit di atas, dengan berkat samudera raya yang letaknya di bawah. dengan berkat buah dada dan kandungan" (Kejadian 49: 25).


 "Tuhan adalah kekuatanku dan perisaiku; kepadanya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepadaNya."
(Mazmur 28:7)

"Dengarlah Tuhan dan kasihanilah aku, Tuhan, jadilah penolongku!"
(Mazmur 30:1)

 "Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan namaMu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena namaMu!"
(Mazmur 79 : 9)

"Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang 
tertindas dan orang yang tidak punya penolong.
 (Mazmur 72: 12)"


Ayat Alkitab lain yang mengandung kata 'Ezer' dapat dicek di link ini.

Jadi, sebetulnya kata Ezer (to help) dapat dimaknai sebagai "memberikan kekuatan", "memberikan perlindungan", "menyembuhkan", "meringankan beban", "melepaskan penderitaan".

Maka kalimat dalam Kejadian 2:18 ("Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia"), dapat dimaknai pula menjadi "Aku akan memberikan kekuatan yang dibutuhkannya (corresponding to him)" atau "Aku akan memberikan penyokong yang cocok untuknya" (fit to him) atau "Aku akan memberikan penolong yang setara dengannya (equal to him)". Perempuan tidak dimaksudkan untuk menjadi asisten atau pembantu laki-laki, tetapi penyokong yang memberikan kekuatan.

Di link ini juga dibahas bahwa kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dicerminkan dalam ayat selanjutnya (Kejadian 2:23). Adam berkata: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Frase idiom "bone of my bones" bermakna "salah satu dari kami", artinya berefek "setara".

Jadi, tugas bersaksi dan melayani itu interaktif. Yang saling dilakukan antara suami dan istri. Dalam kesetaraan, ada keseimbangan, maka datang keharmonisan. Dengan demikian, dalam keseimbangan, pernikahan tidak menjadi kekecewaan.

Aaaah, adem yaa?

Birthday Boxes

Di acara barbeque, merayakan ulangtahunnya yang pertama, Little Big Rei mendapatkan kado dari tante, kakak dan abangnya.

"Coba, yang ini kartu ultah dari mana nih?"

"Hehehe, lucu-lucu ya kartunya!"

"Yang ini dari tante Ingo. Udah aku maenin di bak mandi. Udah aku banting juga" :p

"Ini celanaku! dari tante Tika, kakak Retha dan abang Nuel"

"Asyik nih gitar, bikin aku ketawa dan bergoyang. Ini dari tante Eva dan trio M"

Selasa, 25 September 2012

Celebrating the First Year of Motherhood



Celebrating Little Big Rei's first birthday (which is today) means also celebrating my first year of motherhood. In fact, mother's day for me is today. I could've already been called a momma since detected pregnant though, but the date of Rei's arrival is more momentous.

Today, in the set mother's day, I lead myself to reflect:

Have I been a successful and happy momma? or the poor momma with failures?
Have I been enjoying the first year, counting things as blessings or 
have I been too much complaining?
Have I been an expert in dealing with motherhood stress and blues?
Have I been accepting or regretful of all the sudden personal changes: body, thoughts, emotions, career, time, sex/sexuality, life priorities?

My flash-back drew the good and bad times. There are ups and down, which shows that momma is a human. During the first year, I was cranky. I yelled. I cried. I was scarily mad. I complaint. Albeit, I smiled, I laughed, I sang and I praised. I've been going through the first year with so much confusions, about myself and about the roles. Yet, I learned from scratch. And here I am, ...  staying learning.


I came to the conclusion that there is in fact no constant state of motherhood. And that is why I hate the construction of The Perfect Mom. Thus, demanding momma(s) to be always happy and smiling while letting her struggling to deal the awkward situation by her own, is rather a crime.

Nevertheless, the reflection questions also lead me to grasp the bright sides. There are so much to rejoice in this mother's day. Three celebrations at least. The first one is about myself. I'm feeling positive about being a mother. The second one is the outcome. Yeah, the little boy. Starring at the sleeping Rei at this moment, reflecting on how well he grows, has moved me to congratulate myself as the outstanding momma. That is how my beloved Addies evaluated me. Finally, the third one is the satisfaction on the balance relationships between motherhood and fatherhood, with all the divisions of power and roles. I highly respect Addies for this. He has made me desirably wanting to write about the Measures of a Father.

So yeaayy, congrat me!




Lilypie Birthday Wish!

Blog ini menggunakan Lilypie sebagai pengingat tentang lamanya saya dan Addies menikah, tentang usia Little Big Rei dan lamanya saya menyusui. Hari ini si Lilypie mengingatkan bahwa Rei is exactly one year old. Ada birthday wish juga dari Lilypie!

Untung saya ngeh, jadi saya print screen dan paste di post ini.


Dan sayapun telah menyusui Rei selama 11 bulan, 4 minggu dan 2 hari.

Pernah ada pembaca blog yang memuji dan bertanya bagaimana membuat that cute milestones. Gampang, kok! Masuk saja ke lilypie.com dan ikuti instruksinya. Heheheh *males buat tutorial.

Happy First Birthday!


Celebrating birthday at Ragunan Zoo

Time flies! 
Wasn't he just out of my tummy, reddish, cranky, crying for hugs and milk? 
Today he's one year old already. 
Happy birthday, Little Big Rei! 
Welcome to toddler years.
*emaksiap2tambahkurus.

Senin, 17 September 2012

Buah-buah Asing dari Kanada

Sebelum ibunda meninggal, kakak saya yang menetap permanen di Kanada datang untuk merasakan merawat ibu saya. Dia dan suami berada di Indonesia sekitar tiga minggu.

Kami kedatangan buah-buah asing dari negeri itu. Inilah oleh-oleh buah-buah merah maroon dan biru tua yang eksotis dan cenderung masam.



Buah yang biru kehitaman itulah yang bernama Blueberry. *Oooh ini toh blueberry, heheh, norak*. Buah kecil ini cenderung lebih manis dibandingkan buah yang lain. Lalu saya buatkan es krim yoghurt blueberry. Sayang, fotonya lupa diambil :D

Buah yang sedikit lebih besar dari blueberry, berwarna merah maroon dan punya batang buah yang panjang adalah buah cherry. Ini mah tidak terlalu asing ya.

Berikutnya adalah buah Plum. Di foto, ada di tengah depan dan kiri. Ukurannya seperti tomat. Yang satu warnanya maroon. Satu lagi berwarna kuning kemerahan. Beda yah dengan buah plum ungu yang sering ada di supermarket sini.

Nah, buah yang berada di belakang plum, yang bentuk dan warnanya seperti apel Fuji adalah buah Nectarine. Menurutku, buah ini yang paling spesial, karena wangi dan rasanya khas sekali. Manis dan asamnya betul-betul khas deh. Yummy!

Dari warnanya dapat diketahui bahwa semua buah asing ini baik untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan dapat membantu mencegah kanker. Sayang sekali, karena masamnya, tak ada satupun yang dapat dimakan oleh ibu saya. Kemoterapi telah memperburuk kondisi maag-nya. Begitu juga Little Big Rei tidak terlalu doyan mereka karena masamnya itu :-(