Rabu, 31 Juli 2013

One Year Surviving

Hi Mom,

It's been one year since you left us.
Have you ever imagined,
on how much we miss you?

Are you missing us there?

It's been so strange to live without you.

But no worries mom. We are all alright.
We are just longing to hug and kiss you.
If ever that were possible, which is not.

So this longing has been a friend.
Of our sleep and our prayers.
Sometimes of the tears and broken hearts.  

You are too memorable.
The Great Hero of ours would always be.




Rensy Sirait, the Great Hero


One year, we've been surviving


Little Big Rei: "Just for you ompung boru."

"Do you like it ompung?"
All the grand children: "We miss you too, Ompung!"

Kamis, 18 Juli 2013

Baby-led Weaning Part 9 - Mahir Pakai Sendok

Wah, sudah lama banget tidak posting tentang kemajuan Rei makan sendiri. Beberapa pembaca blog ini mengontak saya dan meminta perkembangan Little Big Rei di-update. Kayaknya yang paling penting untuk di-share adalah kemahiran Rei pakai sendok. 

Haaammmm...
Memasuki usia 20 bulan Rei sudah lancar bersendok. Lancar di sini maksudnya bukan selancar orang dewasa pakai sendok lho ya. Maksudnya Rei sudah bisa mantap pegang sendok, menyiduk makanan dan memasukkan ke mulut. Nyiduknya masih belepotan, misal nasi saja atau lauk saja, kedikitan atau kebanyakan. Masih banyak makanan yg berceceran dari sendok sebelum masuk mulut. Kalau menyendok kuah masih sulit, dapat kuahnya sedikit. Jadi kalau dia ngotot mau kuah, saya bantu tuangkan sedikit kuah ke sendok yang mau dia masukkan ke mulut.

Sendok tetap bukan satu-satunya alat makan, karena tangan masih yang utama. Apalagi tanganlah alat pertama yang Rei pakai sejak mengenal makanan padat. Tangan bergerak secara otomatis untuk comot makanan yang menarik hatinya.

Masih pakai tangan juga

 Kalau sesi makan sudah habis atau sudah mulai bosan, hmmm langsung kelihatan polah-nya.

Kalau sudah ludes, iseng potong sayur pakai sendok

Bosen potong-potong, ngobok-ngobok gelas

Bosen semuanya, kesal dah. "Poto-poto aja seh momma. Turunkan akuuuu!"

Rabu, 29 Mei 2013

PESAT CIBUBUR

Saya adalah anggota Milis Sehat yang cukup baru, juga anggota yang rajin membaca milis, tetapi pasif bertanya atau menanggapi. Rasanya ingin sekali ikut acara PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak untuk Orangtua) yang diselenggarakan oleh para orangtua (Smart Parents) yang adalah anggota milis. Tetapi saya hanya bisa 'gigit jari' karena lokasi penyelenggaraannya biasanya jauh dan sulit ditempuh.

Suatu hari, saya iseng posting ke milis ini untuk mengajak anggota milis yang tinggal di sekitar Cibubur untuk KOPDAR. Siapa tahu ada yang tertarik untuk membentuk panitia dan mengadakan PESAT di Cibubur. Ternyata responnya lumayan. Setelah itu, prosesnya sangat cepat. Kami kopdar, membentuk panitia, dan langsung mempersiapkan PESAT Cibubur yang akan diadakan pada Hari Minggu, 16 Juni 2013.

Sebagai pengelola blog dari PESAT Cibubur, maka saya merasa perlu merujuk blog PESAT Cibubur di jurnal saya ini. Semoga semakin banyak orang yang mengunjungi blog PESAT Cibubur dan berminat untuk bergabung.

Apa itu PESAT? Apa saja yang dibicarakan? Kapan diadakan? Siapa yang menyelenggarakan?
Silahkan mengunjungi http://pesatcibubur.blogspot.com.


May's Celebrations

May is really a special month for me.

My Birthday
Our Annie Day
Our New Home
 Rei's 20 months old

What a live that God grants! All are so wonderful and magnificent!
Rei's been growing so fast that I want sometimes to pause his growth a little while,
just to enjoy every point of it.
More story to tell is our stress and happiness in the journey of building our house.
I hope I have time to write about this.

Meanwhile, let me savor all the beauty of life.

Happy Annie Three

Three years ago ...
on this date, we were united ...
The very special thing this morning is
Addies and I did not forget that today is our anniversary day.
No debate on the exact Annie day like last year.
Or missing the day like last two years.
Yipiiieee ! We've got better brains and memory!

Yet we both forgot the day of my birth on last 19 May.
It was Facebook and the timelines from friends that saved my memory.
Anyway, it is better to only forget one than two important things.

Poppa, Momma and Rei at our new house




Sabtu, 11 Mei 2013

Anak BLW bisa GTM juga

Apakah anak BLW bisa beraksi GTM (gerakan tutup mulut)? Jawabannya bisa banget! And it's surprising because by winning such BLW method, I thought I would have never met this classical problem.

Dalam kurun satu bulan di bulan April lalu, Little Big Rei mengalami banyak ujian, antara lain berturut-turut mengalami:
- Dermatitis Atopik yang disertai flu dan konjungtivitis (mata merah)
- Roseola Infantum, dari infeksi virus herpes 6
- Flu
- Flu lagi



Setiap kali salah satu momma atau poppa pergi ke luar kota, kekebalan Rei sepertinya menurun (mungkin karena merasa kehilangan), jadi mudah kena penyakit dan terinfeksi virus. Kalau sakit, Rei sulit sekali makan. Tidak mau duduk di kursi makan, maunya digendong jalan. Tidak mau makan sendiri, maunya disuapin. Akhirnya metode baby-led weaning dikesampingkan dulu. Berat badan Rei turun sekilo, jadi kelihatan kurus dan seperti bukan anak kecil berbadan besar (Little Big) Rei lagi.

Jangan tanya perasaan saya. Yang pasti tidak enak, campur-campur antara sedih, stres, bingung, tetapi yang terbesar adalah perasaan bersalah karena sudah mulai aktif bekerja dan sering meninggalkan Rei. *loh kok jadi curhat?

Kembali ke topik. Tenang dulu para emak, problem GTM pada Rei bukan pada metode pemberian makan (konvensional atau BLW)  tetapi karena kondisi fisiknya. Setelah sakit berlalu, Rei kembali semangat makan kok. Sekarang Rei malah tambah lancar menggunakan sendok dan garpu ;-)



Minggu, 05 Mei 2013

Baby Room at Changi Airport

I've shared in another post about my frustration in searching for a breastfeeding room at Manila Airport. This time, I want to share something different. Something delightful. Something that makes a mom like me feeling valued and respected. 

Direction to Baby Care Room in Changi Airport

Many times I've been to Changi Airport in Singapore but never put any attention to this facility until I became a breastfeeding mother. The size of board sign for the baby care room is equal to the size of gate direction. I mean it's not as small as the toilet sign. The direction is clear, which shows that this room is important. Remember that the sign is not for a breastfeeding room but a more comprehensive facility that is a baby care room. When I saw that board, I was thinking that there should be something special down there. And it was!

Tap area
Surprisingly (or was I too excited?), the tap area was equipped by a hot water tap, which helped mommas to clean or sterilize bottles or pumpers. It has a secure button, so the hot water only comes out if the two buttons (red/hot button and the secure button) are pushed together. This creates safety in case children play around with the tap.

Hot water tap

There were three tiny beds for the newborns. Look at the hanging tissues, which give easiness for mothers in changing diapers or cleaning things.


Newborns beds
 
And the very special and private one was the breastfeeding room (which can be used for pumping too), which was spacious and shaped like a cylinder cube, with light, desk and trash bin. I pumped my breasts and got a little legs stretching here.



Breastfeeding room at Changi Airport
Thanks for appreciating me, Changi Airport!

I do hope that CGK airport has something like this *daydreaming

Rabu, 09 Januari 2013

New Look!

New year, new look! 


Challenged to welcome more eccentric behaviors and stubbornness of a toddler.

Senin, 07 Januari 2013

Gender Equality at Home and The Shining 2013!

Here is my reflection of 2012. 
Gender equality at home is sharing power. 
I lead Addies. He leads me. 
Yet, the most boss of all is this little big baby.


Belated wish from this li'l family: 
Have a shining and wonderful 2013!

Kamis, 27 Desember 2012

Busy Kitchen

Momma Cuek's kitchen has been so busy. I decided to make many kinds of crackers at home to serve for Christmas 2012 and New Year 2013, instead of buying from the market or stores. They might be cheaper and would be free from MSG and preservatives, I thought. It's also about the essence of homemaking: from consumption to production. But off course, lots of energy and mental pressures spent for the efforts. Not to mention, the failures and strange tastes!

My sister, Sri Rejeki, helped me in the kitchen. And for all of our sweats out in the kitchen, we were satisfied and happy. Weren't we sis?


From consumption to production: keripik jamur, keripik singkong balado, keripik ubi, keripik kentang, rempeyek kacang, keripik tempe

Arranged in the Jars

Selasa, 25 Desember 2012

Senin, 24 Desember 2012

How's Christmas in Heaven?


Dear Mom,
How are you?
We've been missing you so much. 
Tears have been falling and 
Here comes the first Christmas celebration without you by our side.
Another struggle to survive this longing.
Yet we would survive, mom. We would. 
Don't you worry.
All about you everlastingly accompany our hearts.

Dear Mom,
How's Christmas in Heaven?
In a constant happiness and overflowing grace?
Dancing. singing and laughing by Jesus's side?
That's what we could only imagine. 
The things we want to feel too.
So, till we meet again after our lives, momma!
Where we'd dance altogether, surrounded by the glory.

Missing you. Missing you. Missing you so much.

Ain. 24-12-12. 





Kamis, 20 Desember 2012

Momma's Academic Trip to Manila - Part 2

The Manila trip in the late November 2012 was the first momentum of leaving Little Big Rei at home, for quite long time. Hmm..., long time here means two days, three nights. Hehehe. Well, that's long for me. I squeezed the trip from three days to two days because of feeling anxious to leave Rei too long. It was not my first trip to Manila anyway, so beside participating in the symposium, I was not interested at all to have a city tour, except shopping for Filipino mangoes and chicharon (fried pork skin crackers).

I didn't pump to leave any breast milk at home because my pumped milk get smelly soon for it contains too much lipase. Meanwhile, formula milk is no no! So my Little Big Rei didn't drink milk at all during the days I left. Addies deliberately took official leaves for rearing Rei and giving me chance to go. Taking care Rei without momma's breasts was a struggle. So much cries and angers in the first night, Addies told me. Rei was rather not enthusiastic of playing, but the good thing was that he maintained good appetite for food. Anyway, overall, my two men succeeded to manage life.

I was struggling myself in Manila. While my body stayed in the symposium, my mind frequently turned blank, flying to Rei. How is Rei doing now? is he crying? Could he eat well? etc. When breasts got swollen, I ran to find a room, pumping, and in such moment I missed Rei so much. I came to realize the feeling of a mother who's being separated from her child.

The waiting for the flight back to Jakarta in MNL airport frustrated me. I needed so much to pump at the time because it's been painful. After searching with my blister feet, there I found a breastfeeding room. BUT, it was locked and dark. Gosh! Why on earth they provide a closed breastfeeding room? It supposes to be opened for 24 hours. I complained and asked for helps to at least 10 different airport officers, just to get the key to open the room. No one ever helped me. It surprised me that no officer was aware that there was a breastfeeding room in the airport. They said that there was no such room. I told them there was one. That is one issue. The other one was that no one would want to help me getting the room key. They said that it was not part of their jobs and that I supposed to exit and go to the airport management locket to ask support. One officer even made a joke, with giggling saying that the room is closed today, but perhaps open tomorrow. I snapped him: You are so insensitive, man!

I was reluctant to exit the waiting room, because I must pass the bag/body scanners and later come back to face another checking. If I did this, I could have missed the flight. Only 20 minutes left. Eventually I decided to push myself to accept the situation, back sitting down in front of the boarding gate, inhaling exhaling, trying to calm down, humming all the songs I composed for Rei.

I finally landed in Jakarta at midnight. My two men picked me up at CGK airport. I sneaked to the car and there I saw Rei who looked sleepy, but anxious. I whispered, calling his name. Rei turned his head and starred at me strangely, as if couldn't believe that I'd be back. He gave me a very nice little smile, but silent. He didn't make any sound at all, but fingered my breasts. After all the separation, what he really needed the most, at the first time seeing me again, was sucking me. He fell asleep so fast after breastfed. No sound till we arrived at home.

In the next days, Rei get used to sleep without me and breasts in the morning or afternoon, which is a good thing for preparing a weaning. It is also a lot easier for Addies to make Rei sleep on his hands. Well, the lessons learnt about separation is that sometimes it's good for the three of us, the team.

Momma's Academic Trip to Manila - Part 1

The great thing in life is that during times of changing diapers and breastfeeding, I was given a chance to have an academic trip to Quezon City, The Philippines, to participate in a symposium on Building Korean-Asian Network of Women's Studies. I presented a research paper titled: "Has gender knowledge in Indonesia influenced policies?". The paper is a fraction of the report on "Study of knowledge needs and supply constraints for gender research in Indonesia's knowledge sector".  I was the coordinator of the research team, under the supervision of the Graduate Program in Gender Studies, Universitas Indonesia, which is the academic institution where I pursued my Master Degree. I won't write anything about the research in this post, because you can actually download the research report here.

There in the symposium, I concluded myself that women's studies progress in Indonesia is quite better than those in Brunei, Malaysia, even Singapore. They are interested more to analyze women empowerment, than gender relations between men and women. The issue of LGBT (lesbian, gay, bisexual and transgender) is certainly off discussion in the countries. The governments will not approve any research or studies related to the issue. Thailand, on the other hand, is the most tolerant country with various LGBT studies. However, the State's protection to LGBT groups is still questioned.

I amazed by how Korean women developed women's studies, not only in the country, but in Asia. Ehwa Womans University has become the leading university that manages Korean Women's Institute, Asian Center for Women's Studies, the Asian Association of Women's Studies, Asian Journal in Women Studies, Ehwa Global Empowerment Program and many more.

Now I'm sharing you the best part of this academic trip. It is the tour to the Women's Studies Center in University of the Philippines (UP). I envy because of the completeness of the center's services: Master Degree program, research centers, library, computer lab, baby room for staffs who rear babies, etc. The center also runs a day care center on another block but in the same campus complex. It is mainly arranged for UP staffs who have babies under five, but also open for public.


In front of the Women's Studies Center, the University of Philippines

I'm so sure that such progress could only be gained with strong support from the university management and the Ministry of Higher Education. I envy this because the research in gender knowledge that I took just showed how weak the situation of women's studies centers and graduate program in gender studies in Indonesia is and how they got lack of support from universities and government. I really wish that Universitas Indonesia had an integrated center as such in the Philippines. When???  *daydreaming.

Kamis, 06 Desember 2012

Cara Bertahan Tanpa PRT

Perempuan rumah tangga bekerja tanpa jam kerja alias 24/7. Dan mereka masiiiiih saja disebut sebagai kelompok yang 'tidak bekerja', hanya karena tidak menghasilkan uang. Beban bertambah (ganda) bila perempuan juga mencari nafkah, tidak hanya mengurus anak dan rumah. Tidak sedikit perempuan yang merasa kelelahan, stres bahkan burnout, akibat melakukan terlalu banyak pekerjaan.
 
Rumahtangga yang hanya mengandalkan perempuan untuk pekerjaan domestik pasti akan kewalahan dan merasa butuh jasa orang lain, yaitu Pekerja Rumah Tangga. (Note: PRT biasanya perempuan juga. Ada konstruksi gender yang tidak adil di sini. Urusan domestik selalu dilekatkan pada peran perempuan. Saya pernah bahas di sini).

Nah, masalahnya, ketersediaan PRT tidak selalu ada. Permintaan tinggi, suplai terbatas. Bilapun ada, tidak selalu hubungan kerja cocok, kan?. Berdasarkan curhat para PRT,  mereka tidak betah karena tugas terlalu berat, jam kerja panjang, gaji kecil dan majikan terlalu sering marah. Di sisi lain, menurut teman-teman saya dan tulisan momma bloggers, majikan tidak betah menghadapi PRT yang kurang bertanggungjawab, terlalu sering bertelepon dan keluyuran sebelum pekerjaan utama tuntas, dan perilaku lainnya yang bikin sakit kepala daripada membantu. Sampai ada keluarga yang saking sakit hatinya, akhirnya lebih memilih tidak menggunakan jasa PRT dan babysitter sama sekali. Banyak juga hubungan indah tercipta antara majikan-PRT, namun bukan jaminan bahwa PRT akan setia dan lama bekerja di suatu rumahtangga, karena mereka punya harapan dan mimpi tersendiri, bukan?.

Dalam banyak kasus, ketidakseimbangan pembagian peran-lah sebetulnya yang membuat rumah tangga perkotaan di Indonesia menjadi sangat tergantung pada PRT. Urusan mengasuh anak, memasak dan bersih-bersih dibebankan hanya pada perempuan (istri) atau anak perempuan. Akhirnya perempuan kedodoran energi dan perlu merekrut PRT. Padahal logikanya, bila urusan karir (untuk memperoleh uang, posisi, kekuasaan, dan aktualisasi) di ranah publik bisa dikerjakan oleh laki -laki dan perempuan, mengapa untuk urusan domestik tidak demikian? Laki-laki bisa kok mengepel, mencuci, memasak, mengasuh anak. Tetapi interpretasi agama, budaya dan internalisasinya secara personal tidak mengijinkan laki-laki untuk melakukannya.

Ada juga debat batin begini. "Kan laki-laki udah cari uang, istri dong yang ngurus rumah tangga, nggak tau diri banget sih". Atau perempuan tidak tega melihat suaminya berpeluh keringat di rumah: "Kasihan, udah capek cari duit dan nyetir, masih harus urus anak di rumah.".

Helloooow, men might earn, but women invest! Tugas reproduksi (mengasuh anak dan mengurus rumah) memang tidak menghasilkan uang, tetapi nilai investasinya lebih tinggi lho, yaitu generasi yang kualitasnya dimimpikan dan kesejahteraan seluruh anggota keluarga. Dalam banyak aspek, tugas reproduksi justru lebih berat dan dijalankan dalam jam kerja yang lebih lama dari tugas produksi (mencari nafkah). Jadi tugas reproduktif bukan hanya setara dengan tugas produktif, tetapi melampaui. Pekerjaan domestik yang terlalu banyak juga dapat menghambat kesempatan perempuan terberdaya dalam potensinya yang lain. Karena itu, tanggungan bebannya perlu dibagi. Pembagian tugas antara suami-istri lebih serius diperlukan bila perempuan berbeban ganda, yakni melakukan kedua tugas produktif dan reproduktif (berkarir, mengasuh anak dan mengurus rumah).

Kembali ke topik. Jadi bagaimana agar rumahtangga berlangsung tanpa PRT?
  
Pertama-tama, marilah melihat dalam rumahtangga, apakah beban kerja domestik antara perempuan (istri/ibu) dan laki-laki (suami/ayah) terbagi secara seimbang? Hal utama yang perlu dilakukan adalah secara terbuka membagi tugas domestik antara istri dan suami atau anggota keluarga perempuan dan laki-laki (untuk keluarga besar yang anak-anaknya sudah dewasa).

Saya dan Addies telah sepakat bahwa kami harus selalu siap kapanpun tidak tersedia jasa PRT. Ini berarti kami harus sepakat dengan pembagian tugas. Sejak Little Big Rei lahir hingga sekarang berusia 14 bulan, hanya beberapa bulan saja kami merasakan jasa PRT. Pun bila ada PRT, kami tetap menjadi perawat utama Rei. Addies berkarir di luar rumah, sedangkan saya lebih banyak berada di rumah, tetapi tidak berarti bahwa semua urusan rumahtangga dan perawatan Rei ada di pundak saya.

Menurut kami, adalah baik memberikan potret kepada anak bahwa laki-laki bisa mengerjakan pekerjaan rumahtangga. Sejak kecil, Rei melihat poppa-nya menyapu, mengepel, memberinya makanan dan minuman, memandikan, memakaikan baju dan popok, mengajak jalan-jalan dan bermain. Saat Rei masih merah, Addies bahkan kebagian mencuci semua popok yang belepotan pup. Ketika dewasa nanti, kami berharap Rei tidak merasa ada masalah pada dirinya bila dia (sebagai laki-laki) melakukan pekerjaan domestik itu.

Please pembaca, jangan mengira bahwa rumahtangga kami berlangsung damai, lancar jaya tanpa tangisan bombay. Saya dan Addies melaluinya dengan stres, kemarahan, kekecewaan dan saling menyalahkan. Tidak jarang uneg-uneg dan saling komplain keluar dengan cucuran air mata, gerutu dan teriakan. Kami bahkan pernah bertengkar sampai merasa amat sangat malu pada Rei yang ternyata sedang mengamati kami dengan tertekan *ngga lagi deh berantem di depan Rei*. Proses ini membawa kami menjadi insan yang makin mengenal diri dan pasangan. Mengasuh Rei secara tandem membuat kami lebih dewasa dan percaya diri, meski tetap merasa tidak sempurna.

Oke, cukup sekian tentang pembagian peran. Sekarang, tips lebih konkrit untuk bertahan tanpa PRT atau babysitter, khususnya untuk keluarga dengan balita:

a) Mandilah bersama anak kita. Jadi kita tidak perlu punya acara mandi sendiri, apalagi karena tidak ada yang jaga si bayi. Mandi bersama telah menjadi momen interaksi dan bermain favorit saya dan Rei. Sssstt, Rei kadang nenen di kamar mandi.

b) Terapkan Baby-led Weaning (BLW) atau bayi makan sendiri. Metode ini memang menyebabkan messy alias berantakan, tetapi pertimbangkan investasi jangka panjangnya. Anak lebih mandiri dan tidak pilih-pilih makanan. Kegiatan makan bisa diselesaikan lebih cepat. Ibu tidak perlu stres memikirkan harus mengolah menu yang sophisticated, demi anak bernafsu makan. Biasakan mendudukkan anak di kursi makan saat makan, alias tidak makan sambil jalan-jalan apalagi lari-lari *hadeeeeh*. Jadi yang kita bersihkan hanyalah local dirt saja bukan ceceran makanan yang bertebaran di mana-mana. Ingat, nyendokin sambil jalan-jalan malah kadang tambah bikin rumah kotor. Dengan metode BLW, kita juga bisa makan bersama anak agar tercipta kebiasaan makan keluarga atau kita bisa mengerjakan hal lain ketika anak sedang makan.Terus terang, metode BLW ini secara signifikan meringankan beban perempuan (maksudnya saya) ;-)

Rei makan di kursi makan. Poppa mengawasi sambil memarut kelapa. Momma masak di dapur. What a team!

- Di pagi hari, sebelum berangkat kerja, suami bisa mengurus anak, sedangkan istri memasak dan bersih-bersih, atau sebaliknya. Biasanya pagi-pagi, saya masak dan Addies mengajak Rei berjemur, memberi makan dan memandikannya. Kadang Addies juga membersihkan kamar dan menidurkan Rei. In such little time, the best thing is that the three of us manage to dine together.

Saya mandi/masak/beres-beres. Addies membobokan Rei sambil mengerjakan tugas kantor (coding)
 - Ikut istirahat ketika anak kita tidur. Kapan lagi???


Poppa dan Rei saling membobokkan

- Sekarang tentang urusan masak. Buatlah bumbu masakan (bawang putih, bawang merah, sambal) untuk kebutuhan seminggu, yang bisa disimpan di kulkas. Jadi tidak perlu selalu mengupas dan mengulek bawang setiap kali mau masak.

Bawang putih dan merah dihaluskan dengan Chopper. Ditumis sebentar. Masuk kulkas
  - Belanja bahan makanan untuk seminggu. Lauk seperti ayam, daging dan ikan dibersihkan sebelum masuk freezer. Urutan sayuran yang dimasak disesuaikan dengan daya tahannya. Yang cepat layu, dimasak duluan.


- Menyapu dan mengepel mungkin bisa diganti dengan penggunaan vacuum cleaner. Saya sendiri baru terpikir untuk membelinya. Rumahtangga di negara Barat jarang sekali punya PRT. Salah satunya karena cara manual digantikan oleh teknologi. Seandainya mesin pencuci piring dijual di sini, pasti saya berpikir untuk membelinya.

- Get rid some old things. Buanglah atau berikan kepada yang membutuhkan, semua barang yang kurang terpakai. Jadi kita membutuhkan sedikit tenaga untuk membersihkan barang-barang di rumah.

Nah, sekarang soal karir. Bagaimana bila perempuan tetap ingin berkarir dan tidak bisa banyak berada di rumah? Sebenarnya menurut berbagai sumber, usia 0-3 tahun adalah golden age, di mana anak betul-betul membutuhkan kasih sayang, perhatian dan pendampingan. Karena itu, disarankan salah satu orangtua dapat lebih lama tinggal bersama anak di rumah. Maksudnya, menunda bekerja sampai anak telah berusia 3 (tiga) tahun atau bekerja dari rumah atau bekerja secara part-time. Saya tidak bilang yang lebih banyak tinggal di rumah harus perempuan ya. Tetapi bila anak disusui dengan ASI sampai minimal usia dua tahun, maka sebaiknya perempuan yang menunda bekerja dan lebih lama berada di dekat anak.

Saya amat sangat maklum bahwa pilihan ini belum tentu cocok untuk semua orang. Bila perempuan memutuskan tetap lanjut berkarir secara full time, hayu atuh. Go, go, go! Ada pilihan bertahan lainnya, misalnya menitipkan anak di rumah orangtua/mertua atau di daycare atau Tempat Penitipan Anak (TPA). Sudah mulai banyak daycare di wilayah perumahan dan kantor. TPA yang dikelola oleh departemen pemerintah atau universitas biasanya relatif lebih murah, meski tidak selalu lebih berkualitas. Ada juga TPA yang melayani penitipan harian (bukan bulanan), cocok untuk perempuan yang bekerja secara part-time. Sebaiknya survei dulu sebelum memilih daycare yang sesuai dengan visi dan misi orangtua. Ini ada blog khusus yang membahas TPA, meski tidak up to date. Ada juga tips memilih TPA di sini.

Segini dulu ya. Ada tips lain?






Selasa, 20 November 2012

Baby-led Weaning Part 8: Disuapin bila...

1) Little Big Rei sedang sakit. Kalau sedang terkena reaksi alergi seperti batuk dan pilek, Rei maunya lengket dalam dekapan dan pelukan. Maunya dipangku dan disuapin makan, tidak mau didudukkan di kursi makannya.

2) Sedang bepergian dan situasi tidak memungkinkan untuk anak makan sendiri. Contohnya ketika keluarga jalan-jalan ke kebon binatang Ragunan. Alamak, kotor sekali udara dan lingkungannya. Toilet jauh dan jorok. Karena merasa kurang higienis, meski bisa membersihkan tangan Rei pakai air mineral atau tissue basah, tetap saja saya kehilangan percaya diri untuk membiarkan Rei pegang makan sendiri. Jadi saya suapin deh. Meski begitu, beberapa kali Rei spontan mengambil anggur waktu kami lesehan.

3) Rei sedang aktif sekali bermain dan tidak mau didudukkan di kursi makan, padahal jadwal makan sudah terlambat. Biasanya saya menghampirinya di tempat bermain dan menyuapkan sedikit buah sebagai snack. Kalau hasrat makan (apetite) sudah muncul, lanjut makan berat di meja makan.

4) Rei menolak makanan baru atau makanan yang teksturnya terlalu lembek (note: saya pernah salah buat siomai). Rei tidak mau pegang makanannya. Saya akhirnya menyuapi makanan itu untuk memperkenalkan. Bila dia merasa cocok dengan makanan itu, biasanya dia akan berani mengambil dan melumatnya.

5) Minum kuah sayur atau sup ikan (dengan sendok). Dia juga bisa meminumnya lewat cangkir.

6) Sedang belajar menggunakan sendok. Tangan saya mengarahkan tangan Rei yang sedang pegang sendok, membantu menciduk makanan. Selanjutnya dia sudah bisa mengarahkan sendok ke dalam mulutnya.

7) Saya sedang sakit atau kelelahan, sehingga tidak mampu membersihkan kursi makan, ceceran makanan dan baju kotornya kalau dia makan sendiri.

Markisa, buah favorit Rei (14 bln). Kadang saya suapin biji markisa yang jatuh ke piringnya.
 
Pada akhirnya, metode baby-led weaning tetap fleksibel kok. Berdasarkan pengalaman saya, sesekali menyuapi bayi atau toddler yang sejak usia 6 bulan sudah full BLW seperti Little Big Rei, tidak akan mengurangi ketrampilannya makan sendiri atau menimbulkan  ketergantungan untuk disuapi. Oya, sambil  disuapi, anak BLW pasti 'gatel' mau tetap pegang-pegang makanan dan memasukkan ke mulut.

Jadi menyuapi tidak dilarang. Intinya, baca bayi kita dan baca situasi. As for dining, always keep baby and momma happy and connected :-)

Minggu, 14 Oktober 2012

Istri Penyokong Suami, Bukan Asisten!

Adem rasanya dan masih terngiang di hati ketika menikmati khotbah kebaktian di gereja minggu lalu. Bagaimana tidak? Ini kali pertama saya mendengar ada pendeta di depan mimbar, berbicara kepada jemaatnya tentang pentingnya kesetaraan dalam rumah tangga. Sungguh suatu yang langka. Saya yang kurang rajin ke gereja jadi bersemangat :D

Pendeta ini tidak melontarkan kata 'gender' atau 'kesetaraan gender' tetapi dia sebetulnya sedang berbicara tentang itu. Tidak penting apakah dia menyampaikan kata 'gender' atau tidak, yang penting isinya. Lagian toh banyak orang masih tidak paham konsepnya.

Adalah Pdt. Rumenta S Manurung yang berkhotbah di depan warga jemaat GKI Kranggan hari Minggu 07 Oktober 2012 dalam rangka merayakan bulan keluarga (Oktober). Tema bulan keluarga adalah Setia Bersaksi dan Melayani. Pendeta merelasikan tema dengan kesetaraan dan pembagian peran antara istri dan suami.

Suami istri dipasangkan oleh Tuhan untuk suatu tujuan, yaitu agar keduanya dapat saling bersaksi dan melayani, hingga pada akhirnya, semua yang mereka lakukan itu memuliakan Tuhan. Banyak pernikahan kenyataannya diwarnai kekecewaan karena sosok pasangan hidup yang dicitrakan tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. Salah satu kekecewaan disebabkan oleh ketidakseimbangan posisi dalam rumahtangga, di mana istri ditempatkan sebagai posisi yang subordinat.

Dalam Kejadian 2 : 18, Tuhan berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."  Demikianlah Tuhan menciptakan perempuan untuk mendampingi laki-laki. Banyak misinterpretasi tentang kata "penolong" ini, yaitu umumnya disalahartikan menjadi 'asisten' atau 'pembantu' atau orang yang posisinya subordinat, di bawah laki-laki. Istri dianggap sebagai asisten beres-beres atau bersih-bersih rumah. Padahal makna "penolong" di sini bermakna jauh lebih tinggi dari itu.

Pdt. Rumenta S Manurung menekankan jemaat untuk meng-underline-bold-perbesar font kata PENOLONG. Kata ini diterjemahkan dari kata Ezer (Hebrew), yang digunakan dalam relasi antara Allah dengan umatnya. Allah adalah PENOLONG umatnya, demikianlah juga perempuan penolong laki-laki.


Penjelasan pendeta soal kata 'Ezer' ini rasanya bagi saya masih kurang detil. Karenanya, sepulang dari gereja, saya search di google tentang penggunaan kata Ezer  di Alkitab. Kata Ezer berasal dari bahasa Hebrew - Ibrani modern, satu grup dengan kata Azar dan Ezra. Dalam bahasa Inggris sering diterjemahkan sebagai verb atau noun, yaitu "Help" atau "Support", dan dalam bahasa Indonesia: pertolongan atau penolong.

Ternyata memang betul. Banyak sekali pemakaian kata 'Ezer" dalam Alkitab yang menunjukkan relasi antara Allah dan umatnya, serta yang secara jelas menunjukkan bagaimana umat meminta pertolongan Allah. Sila mencek di Hebrew Word Study on Help.

Saya catat beberapa ayat di sini.

"... oleh Allah ayahmu yang akan menolong engkau, dan oleh Allah yang Mahakuasa yang akan memberkati engkau dengan berkat dari langit di atas, dengan berkat samudera raya yang letaknya di bawah. dengan berkat buah dada dan kandungan" (Kejadian 49: 25).


 "Tuhan adalah kekuatanku dan perisaiku; kepadanya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepadaNya."
(Mazmur 28:7)

"Dengarlah Tuhan dan kasihanilah aku, Tuhan, jadilah penolongku!"
(Mazmur 30:1)

 "Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan namaMu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena namaMu!"
(Mazmur 79 : 9)

"Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang 
tertindas dan orang yang tidak punya penolong.
 (Mazmur 72: 12)"


Ayat Alkitab lain yang mengandung kata 'Ezer' dapat dicek di link ini.

Jadi, sebetulnya kata Ezer (to help) dapat dimaknai sebagai "memberikan kekuatan", "memberikan perlindungan", "menyembuhkan", "meringankan beban", "melepaskan penderitaan".

Maka kalimat dalam Kejadian 2:18 ("Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia"), dapat dimaknai pula menjadi "Aku akan memberikan kekuatan yang dibutuhkannya (corresponding to him)" atau "Aku akan memberikan penyokong yang cocok untuknya" (fit to him) atau "Aku akan memberikan penolong yang setara dengannya (equal to him)". Perempuan tidak dimaksudkan untuk menjadi asisten atau pembantu laki-laki, tetapi penyokong yang memberikan kekuatan.

Di link ini juga dibahas bahwa kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dicerminkan dalam ayat selanjutnya (Kejadian 2:23). Adam berkata: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Frase idiom "bone of my bones" bermakna "salah satu dari kami", artinya berefek "setara".

Jadi, tugas bersaksi dan melayani itu interaktif. Yang saling dilakukan antara suami dan istri. Dalam kesetaraan, ada keseimbangan, maka datang keharmonisan. Dengan demikian, dalam keseimbangan, pernikahan tidak menjadi kekecewaan.

Aaaah, adem yaa?

Birthday Boxes

Di acara barbeque, merayakan ulangtahunnya yang pertama, Little Big Rei mendapatkan kado dari tante, kakak dan abangnya.

"Coba, yang ini kartu ultah dari mana nih?"

"Hehehe, lucu-lucu ya kartunya!"

"Yang ini dari tante Ingo. Udah aku maenin di bak mandi. Udah aku banting juga" :p

"Ini celanaku! dari tante Tika, kakak Retha dan abang Nuel"

"Asyik nih gitar, bikin aku ketawa dan bergoyang. Ini dari tante Eva dan trio M"

Selasa, 25 September 2012

Celebrating the First Year of Motherhood



Celebrating Little Big Rei's first birthday (which is today) means also celebrating my first year of motherhood. In fact, mother's day for me is today. I could've already been called a momma since detected pregnant though, but the date of Rei's arrival is more momentous.

Today, in the set mother's day, I lead myself to reflect:

Have I been a successful and happy momma? or the poor momma with failures?
Have I been enjoying the first year, counting things as blessings or 
have I been too much complaining?
Have I been an expert in dealing with motherhood stress and blues?
Have I been accepting or regretful of all the sudden personal changes: body, thoughts, emotions, career, time, sex/sexuality, life priorities?

My flash-back drew the good and bad times. There are ups and down, which shows that momma is a human. During the first year, I was cranky. I yelled. I cried. I was scarily mad. I complaint. Albeit, I smiled, I laughed, I sang and I praised. I've been going through the first year with so much confusions, about myself and about the roles. Yet, I learned from scratch. And here I am, ...  staying learning.


I came to the conclusion that there is in fact no constant state of motherhood. And that is why I hate the construction of The Perfect Mom. Thus, demanding momma(s) to be always happy and smiling while letting her struggling to deal the awkward situation by her own, is rather a crime.

Nevertheless, the reflection questions also lead me to grasp the bright sides. There are so much to rejoice in this mother's day. Three celebrations at least. The first one is about myself. I'm feeling positive about being a mother. The second one is the outcome. Yeah, the little boy. Starring at the sleeping Rei at this moment, reflecting on how well he grows, has moved me to congratulate myself as the outstanding momma. That is how my beloved Addies evaluated me. Finally, the third one is the satisfaction on the balance relationships between motherhood and fatherhood, with all the divisions of power and roles. I highly respect Addies for this. He has made me desirably wanting to write about the Measures of a Father.

So yeaayy, congrat me!




Lilypie Birthday Wish!

Blog ini menggunakan Lilypie sebagai pengingat tentang lamanya saya dan Addies menikah, tentang usia Little Big Rei dan lamanya saya menyusui. Hari ini si Lilypie mengingatkan bahwa Rei is exactly one year old. Ada birthday wish juga dari Lilypie!

Untung saya ngeh, jadi saya print screen dan paste di post ini.


Dan sayapun telah menyusui Rei selama 11 bulan, 4 minggu dan 2 hari.

Pernah ada pembaca blog yang memuji dan bertanya bagaimana membuat that cute milestones. Gampang, kok! Masuk saja ke lilypie.com dan ikuti instruksinya. Heheheh *males buat tutorial.