Tampilkan postingan dengan label Interests. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Interests. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Mei 2013

PESAT CIBUBUR

Saya adalah anggota Milis Sehat yang cukup baru, juga anggota yang rajin membaca milis, tetapi pasif bertanya atau menanggapi. Rasanya ingin sekali ikut acara PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak untuk Orangtua) yang diselenggarakan oleh para orangtua (Smart Parents) yang adalah anggota milis. Tetapi saya hanya bisa 'gigit jari' karena lokasi penyelenggaraannya biasanya jauh dan sulit ditempuh.

Suatu hari, saya iseng posting ke milis ini untuk mengajak anggota milis yang tinggal di sekitar Cibubur untuk KOPDAR. Siapa tahu ada yang tertarik untuk membentuk panitia dan mengadakan PESAT di Cibubur. Ternyata responnya lumayan. Setelah itu, prosesnya sangat cepat. Kami kopdar, membentuk panitia, dan langsung mempersiapkan PESAT Cibubur yang akan diadakan pada Hari Minggu, 16 Juni 2013.

Sebagai pengelola blog dari PESAT Cibubur, maka saya merasa perlu merujuk blog PESAT Cibubur di jurnal saya ini. Semoga semakin banyak orang yang mengunjungi blog PESAT Cibubur dan berminat untuk bergabung.

Apa itu PESAT? Apa saja yang dibicarakan? Kapan diadakan? Siapa yang menyelenggarakan?
Silahkan mengunjungi http://pesatcibubur.blogspot.com.


Kamis, 20 Desember 2012

Momma's Academic Trip to Manila - Part 1

The great thing in life is that during times of changing diapers and breastfeeding, I was given a chance to have an academic trip to Quezon City, The Philippines, to participate in a symposium on Building Korean-Asian Network of Women's Studies. I presented a research paper titled: "Has gender knowledge in Indonesia influenced policies?". The paper is a fraction of the report on "Study of knowledge needs and supply constraints for gender research in Indonesia's knowledge sector".  I was the coordinator of the research team, under the supervision of the Graduate Program in Gender Studies, Universitas Indonesia, which is the academic institution where I pursued my Master Degree. I won't write anything about the research in this post, because you can actually download the research report here.

There in the symposium, I concluded myself that women's studies progress in Indonesia is quite better than those in Brunei, Malaysia, even Singapore. They are interested more to analyze women empowerment, than gender relations between men and women. The issue of LGBT (lesbian, gay, bisexual and transgender) is certainly off discussion in the countries. The governments will not approve any research or studies related to the issue. Thailand, on the other hand, is the most tolerant country with various LGBT studies. However, the State's protection to LGBT groups is still questioned.

I amazed by how Korean women developed women's studies, not only in the country, but in Asia. Ehwa Womans University has become the leading university that manages Korean Women's Institute, Asian Center for Women's Studies, the Asian Association of Women's Studies, Asian Journal in Women Studies, Ehwa Global Empowerment Program and many more.

Now I'm sharing you the best part of this academic trip. It is the tour to the Women's Studies Center in University of the Philippines (UP). I envy because of the completeness of the center's services: Master Degree program, research centers, library, computer lab, baby room for staffs who rear babies, etc. The center also runs a day care center on another block but in the same campus complex. It is mainly arranged for UP staffs who have babies under five, but also open for public.


In front of the Women's Studies Center, the University of Philippines

I'm so sure that such progress could only be gained with strong support from the university management and the Ministry of Higher Education. I envy this because the research in gender knowledge that I took just showed how weak the situation of women's studies centers and graduate program in gender studies in Indonesia is and how they got lack of support from universities and government. I really wish that Universitas Indonesia had an integrated center as such in the Philippines. When???  *daydreaming.

Jumat, 17 Februari 2012

Call me Crazy in Valentine’s Day



Akhirnya berakhir juga gonjang ganjing menentang Valentine’s Day. Berlalu sudah status FB seperti: “People call it Valentine’s Day, I call it Tuesday” atau “No Valentine’s Day. I’m a Moslem”.  Selesai juga hiruk pikuk demo mengharamkan hari raya ini. Sekarang keadaan sudah tenang kembali. Tiap tahun seperti ini, macam rutinitas saja.

Kenapa hari Valentine ini begitu dibenci banyak orang ya? Terlepas dari sejarah valentine yang saya tidak mau bahas di sini *googlingajasendiri*, alasan penolakan  yang ini betul sekali. Kasih sayang seharusnya diberikan dan diterima setiap hari, tidak hanya valentine’s day saja. Setuju. Tetapi kalau alasan yang satu ini: Di hari Valentine, banyak anak muda bermabuk alkohol dan melakukan free sex. Heehhh? Bukannya kejadian seperti itu juga bisa muncul setiap hari? Yah, namanya juga manusia. Lebih enak mengkambinghitamkan momentumnya daripada nafsunya.

Saya bukan peraya Valentine’s Day, tetapi agak geli mengamati sewotnya orang yang tidak merayakan hari valentine dan membuat gerah orang yang merayakannya secara positif dan tulus. Mereka seperti hakim yang memberikan judgement bahwa merayakannya adalah dosa *emangsiapasihkamu? Apa salahnya memiliki hari spesial untuk berkasih-kasihan atau memberikan kado kecil, yang tak seberapalah nilai uangnya, untuk membuat ceria seseorang di suatu hari?

Meski bukan orang yang merayakan hari valentine, saya kok ya lebih senang melihat sepasang orang berkasih-kasihan, bersayang-sayangan, berpelukan bahkan berciuman bibir *didepanumumgakpapa*, daripada melihat orang-orang tawuran, korupsi, berkelahi di sidang DPR atau beranarkis seperti FPI dan daripada melihat demo yang mengharamkan hari Valentine ini.

Call me crazy, tapi sungguh deh, rasa kasih semakin langka di jaman ini. Masyarakat semakin bersekat, memikirkan diri dan kepentingan diri, tidak punya ruang hati untuk sedikit memberikan courtesy bagi orang lain. Not to mention, berlakunya ridicule rules. Cinta diatur-atur: “ tidak boleh berciuman di depan umum”, “laki-laki dan perempuan tidak boleh berdua-duaan, dll.

Ooh, saya merindukan cinta bertebaran di mana-mana… di mana-mana… di mana-mana.

Kamis, 16 Februari 2012

Kersen, My Love

Ini dia, si buah kersen, populer di antara anak-anak yang suka memanjat pohonnya dan berebutan memetiknya.  Saya suka sekali buah yang sering disebut ceri ini, karena beraroma yang menyenangkan. Rasanya khas dan manis. Warnanya pink merona.

Buah Kresen, Buah Ceri-nya Indonesia
Memetiknya menjadi rutinitas saya, Little Big Rei dan keponakan (Revani Putri Raja). Pagi hari, sehabis jogging dan makan bubur ayam, tidak afdol bila kami tidak mampir ke dua pohon kersen yang rindang ini.

Reva dan Little Big Rei (kesian, wajahnya ketutup pegangan stoller)  di samping pohon kersen



Buahnya banyaaak. Letaknya ada di belakang rumah tetangga dan sedikit ngumpet (ada di jalan buntu), jadi buahnya jarang dipetik orang. Hmm, asik banget nih *liurnetes. Sebenarnya ada beberapa pohon kersen lainnya berada di pinggir-pinggir jalan komplek rumah, tetapi buahnya jarang, karena kerap sudah dipetik orang.

Pohon kersen di dekat rumah ini cukup tinggi, jadi banyak buah ranum tidak dapat tergapai dengan tangan. Sayang deh, banyak buah yang jatuh karena tidak ada yang petik. Nah, untung kakak Reva punya mainan ini nih.

garukkannya Reva
Pas saya lihat si tangan panjang ini tergeletak di rumah, muncul bohlam di atas kepala. Twing twing! Memetik buah kersen dengan alat garuk badan ini jadi lebih asyik dengan hasil yang lebih banyak *kemaruk mode on. Tinggal kaitkan si tangan ini ke dahan, tarik dahannya, terus petik-petik deh buahnya. Si tangan ini bisa juga meraih langsung buahnya dan tertinggal di telapaknya. Sip! Langsung diraih si pinky kersen dan masuk box yang sudah disiapkan dari rumah.

Oya, nama ilmiah pohon kersen adalah Muntingia Calabura. Sering disebut  juga pohon talok. Oleh orang Sulawesi sering menyebutnya Gersen. Ini termasuk tanaman perdu, cocok untuk tempat berteduh. Pohonnya mudah dan cepat sekali tumbuh dan berkembang. Ada di mana-mana, subur di trotoar, bahkan pinggir jalan business district seperti Sudirman. Sebenarnya pohon ini agak sedikit liar, suka tumbuh di tembok.

Menurut saya, pohon ini sangat ramah pada manusia dan serangga. Sepanjang tahun, kersen berbunga dan berbuah pink cerah, bagai ingin menyapa dan menghibur orang dan serangga setiap hari. Daaan yang paling penting adalah khasiat buahnya yang dapat menurunkan asam urat bila diminum secara teratur *cobagooglingsendiri.  Kesemutan di kaki saya lambat laun hilang karena memakan *dengan mencuri* nya setiap hari. Sedangkan air rebusan daun kersen dikabarkan bisa menurunkan diabetes dan memperlambat laju kanker. Saya sendiri belum coba.

Tetapi sayang ya, pohon kersen ini kurang dibudidayakan dan dimanfaatkan. Hanya segelintir orang yang membuat sirup dari buah kersen ini menjadi produk herbal lokal, padahal ini potensi sumberdaya lokal yang perlu dikembangkan. Ayo siapa yang mau garaaap?


Jumat, 30 Desember 2011

the new me

After I threw a blog away, I'm now ready for this new one. I got married last year (2010) and now have a very nice baby boy, Reistar. Life changes. Thoughts and experiences are flooding to be shared.  I'm still a 'cuek' person, but now I'm a 'momma cuek'. Hope this blog can portray a new me.