Jumat, 03 Februari 2012

Dua Kepala dalam Keluarga?

Siapakah pemimpin dalam keluarga? Buat Addies dan saya, istilah “satu nakhoda dalam kapal” sudah basi. Kami pilih istilah lain: “dua supir bis Jakarta-Bali”. Tiap bis antar propinsi pasti dikendarai oleh minimal dua supir secara bergantian. Sebelumnya mereka sepakat tentang kemana dan bagaimana mencapai tujuan. 

Sebelum menikah, Addies dan saya berunding tentang siapa yang akan menjadi kepala keluarga dan apa deskripsi tugasnya. Apakah betul hanya suami saja nakhoda dan istri penumpang kapalnya? Ini yang dinasehatkan secara keras oleh keluarga besar di hari pernikahan kami dan disampaikan pula dalam sebuah sesi pra nikah yang kami ikuti di gereja.

Apa sih  sebenarnya tugas kepala keluarga? Kalau tugasnya mencari nafkah, bagaimana kalau suami dan istri sama-sama mencari nafkah? Bahkan ada banyak istri yang berpendapatan lebih banyak dari suami. Tidakkan istri menjadi pencari nafkah utama dalam kasus ini? Jadi dalam bayangan kami, tugas kepala keluarga bukan hanya mencari nafkah.

Jika tugas kepala keluarga adalah melindungi, tidakkah istri sering berperan melindungi anggota keluarga, misalnya merawat yang sakit, mengingatkan suami agar hidup lurus dan tidak korupsi, menjaga rahasia keluarga, mengorbankan karir untuk segala macam perawatan keluarga, dll?  

Akhirnya kami menyimpulkan bahwa kepala keluarga adalah dia yang memikirkan, memutuskan dan bertindak segala sesuatu agar keluarga berbahagia, berdamai sejahtera lahir dan batin. Dan tentunya dia yang rela berkorban untuk memenuhi tanggungjawab itu.

Lalu siapakah dia? Apakah hanya suami ataukah bisa dilakukan ‘tandem’?  Menurut kami berdua, tidak terlalu baik bila hanya laki-laki yang didorong menjadi kepala keluarga. Suami perlu berbagi beban agar tidak tertekan, sedangkan istri perlu belajar untuk menjadi pemimpin. Kami tidak ingin menutup mata dari realita bahwa sering istri lebih banyak tahu tentang berbagai hal seputar rumahtangganya dan mengambil keputusan secara mandiri.  

Dan akhirnya kami memutuskan bahwa kami berdualah kepala keluarga. Semua tugas di dalam dan luar rumahtangga dapat dipertukarkan, maksudnya dapat dilakukan oleh saya dan Addies secara bergantian (kecuali hamil dan menyusui langsung dari payudara yang dilakukan hanya oleh saya). Kami boleh memilih peran sesuai dengan minat dan keahlian masing. 

Satu syarat yang wajib dipenuhi untuk gaya kepemimpinan ini adalah ruang diskusi dan berbagi seluas-luasnya antara saya dan Addies. Kami mengobrol tentang hubungan, tentang anak di masa kini dan depan, tentang uang dan harta benda, tentang apa yang kami miliki dan ingin miliki, tentang seks dan KB, tentang hubungan dengan orangtua, mertua dan ipar, tentang ini, tentang itu. 

Mengobrol dan tuning in, itulah kesukaan kami, untuk menetapkan tujuan dan memilih proses, hingga tidak ada ‘ganjelan’ yang bisa jadi bom sewaktu-waktu. Si komunikasi buruk, biang keladi perceraian.

Jadi, dua kepala dalam keluarga? Why not? Kami belajar bahwa ternyata ini membuat kami makin saling mencintai, lagi dan lagi.

Peringatan untuk pembaca: 

Ini sepenuhnya keputusan internal dan hak keluarga saya. Anda tentunya boleh berpendapat lain dan mengikuti nilai-nilai ‘mainstream’ yang ada. Dan sepenuhnya itu adalah hak Anda.  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar