Minggu, 05 Februari 2012

Gergaji Rahang

Konon kabarnya 90 % artis korea dioperasi plastik. Silahkan googling sendiri faktanya. Addies, suami saya, pernah tinggal dan bekerja selama 2 (dua) tahun di Korea. Dia membenarkan hal ini. Katanya, di Korea, semakin cantik dan tampan seseorang, semakin popular dia dan semakin mahal bayarannya. Dan banyak orang yang tidak diterima bekerja karena dianggap kurang cakep. Weleh weleh…

Orang biasa (non artis) juga banyak yang dioperasi dan ini sudah menjadi hal yang wajar di negeri itu. Suatu hari Minggu waktu Addies ke gereja, ada jemaat yang bilang kepadanya bahwa ia ingin anak perempuannya kelak dioperasi, sambil menunjuk si anak.

Banyak orang Korea kurang menyukai struktur rahang yang cenderung lebar dan persegi. Jadi mereka pergi ke dokter kecantikan untuk minta digergaji rahangnya! Teman saya Iva Kasuma yang pernah berkunjung ke Korea, diberitahu teman-teman di sana bahwa perempuan tangguh di negeri Korea adalah yang berhasil melewati sakitnya pasca operasi mengecilkan rahang!

Addies juga bercerita. Selain rahang, bagian tubuh yang dipilih untuk dioperasi adalah mata (agar ada kelopaknya, tidak sipit), kening (ditipiskan), hidung (diramping dan mancungkan), dagu (diruncingkan). Oya, biaya operasi plastik di Korea relatif lebih murah dibanding di Negara lain, sehingga banyak turis ‘berwisata’ operasi plastik ke negeri ini, dan dengan demikian industri satu ini semakin menguntungkan.

Hmm, agak terkejut juga saya mendengarnya, karena saya sempat gemar menonton film Korea yang ceritanya lucu-lucu, sambil kagum dengan ketampanan dan kecantikan artisnya. Ternyata oh ternyata, mereka tidak asli! Sekarang saya sudah tidak sempat lagi menonton film Korea. Tetapi kalau ibu saya sedang menonton film Korea di Indosiar, saya kadang nimbrung. Kali ini tidak mengikuti jalan ceritanya, tapi melototin artisnya dan mengira-ngira bagian tubuh manakah yang dioperasi.

Menggergaji rahang tentu adalah hak yang bersangkutan. Tapi saya jadi tercenung. Mengapa manusia sedemikian teralienasi ya dari tubuhnya? Manusia merasa asing dengan tubuh, sehingga tubuh terpisah dari jiwa. Tubuh yang sudah asli dari 'sono' dibenci dan dirubah menjadi sesuatu yang lebih ‘indah’. Tetapi definisi indah yang seperti apa? Rasanya tubuh telah menjadi bulan-bulanan patriarkis-kapitalis. Ada usaha untuk menyamaratakan definisi, yakni mengonsepkan perempuan cantik sebagai putih, langsing, mancung, dll. Baru-baru ini konsep kecantikan disusun pula sedemikian rupa untuk mendorong penggunaan kosmetik di kalangan laki-laki, sehingga iklan produknya direpresentasikan oleh laki-laki *yang mungkin telah dioperasi plastik*. Anehnya konsumen (baca: masyarakat) bertekuk lutut dan tunduk pada ‘kencatikanisme’ ini. Begitulah kuatnya kekuasaan kapital dan industrialisasi.

Saya tercenung lagi. Kali ini bersyukur bahwa saya tidak perlu ‘beli’ gergaji rahang, karena roh dan jiwa ini sudah berdamai dengan tubuh. Dan saya cinta tubuh ini *meski perut ini buncit, berkulit jeruk habis melahirkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar